Jika tidak aral melintang, dapat dipastikan kalau 2 Desember pekan
depan umat Islam Aksi Bela Islam Jilid 3 yang disebut juga dengan aksi
212. Aksi akan berjalan di seluruh kota di Indonesia. Seperti aksi jilid 2 Aksi tersebut mendapatkan respon positif dari masyarakat Indonesia yang merindukan keadilan di negeri ini.
Menilai dari rencana Aksi Bela Islam III di Medan, rencananya akan
menggerakkan 1 juta massa – bila dikalkulasi dengan sejumlah propinsi di
Indonesia
35 Propinsi maka dapat dipastikan Ahok di tolak oleh 35juta Orang
ditambah untuk jakarta sudah fix 3 juta orang. Itupun belum dari mereka
yang tidak ikut aksi dan bahkan mungkin diantara aparat keamanan yang
juga benci dengan Ahok.
Sebagian kecil rakyat indonesia
ada yang menolak. Tentu saja penolakan itu hadir dari mereka para
pendukung Ahok (sebagai tersangka penista agama) dan partai pendukung
Ahok PDIP. Mereka berkonsolidasi secara nasional untuk tetap bela Ahok.
Namum mereka banyak hadir hanya di dunia maya, tidak berani muncul ke
permukaan. Nah satu orang pendukung Ahok yang berani nyata beliau adalah
Kapolri Tito Karnavian.
Ada yang menarik menjelang aksi ini. Yaitu sikap Kapolri yang sedikit
lebay dan tanpak cendrung pembelaannya pada Ahok. Kapolri dinilai oleh
peserta aksi (umat Islam) saat ini berada dalam barisan pendukung Ahok.
Bahkan menjadi ‘tameng Ahok’. Beberapa kali pernyataan Tito
mengindikasikan itu. Entah apa yang melandasi – tapi sepertinya ini
karena kepentingan personal Tito saja. Baik kepentingannya bersama Ahok
atau kepentingannya untuk berhadapadan dengan umat Islam dan ormas
Islam.
Perlu diketahui, Kapolri Tito Karnavian ini satu satunya Kapolri
lulus s3 dan bergeral Phd. Desertasinya seputar gerakan Islam. Karenanya
wajar pemikirannya sudah tercekoki dengan buruknya gerakan Islam.
Itulah yang melanggengkan dia pada posisi densus 88 dahulu. Sudah bukan
rahasia umum, kalau densus 88 dahulu sudah menembak mati di duga teroris
tanpa proses peradilan. Cara berfikir sarkas anti mainstream umat Islam
ada pada dirinya. Dia selalu selalu skeptis terhadap gerakan Islam.
Akhirnya dia selalu berasumsi buruk gerakan Islam, termasuk Saat umat
islam membela Agamanya. Inilah yang menjadi latar betapa pentingnya
Kapolri untuk menghempang gerakan Islam.
Hal ini dipertegas fakta bahwa di beberapa daerah Kapolda, Kapolres relatif mengapresiasi aksi yang dilakukan masyarakat.
Bahkan di Medan, Kapolda Sumut ikut berjalan bersama peserta aksi dalam
aksi bela Islam jilid 2 lalu. Ini bukti Bahwa melawan umat islam
kapolri berdiri sendiri.
Ditambah lagi, Kapolri berkali kali mencoba bangun opini bahwa aksi
ini adalah aksi ‘bermasalah’. Mulai dari aksi yang di tunggangi aktor
politik, gerakan khilafah sampe adanya upaya makar dalam aksi bela Islam
ini. Terbaru malah kapolri meminta semua gubernur untuk larang warganya
ikut aksi 212 di Jakarta. Tentu saja ini menambah preseden buruk
kepolisian. Karenanya wajar kalau berbagai tokoh berkomentar pedas
kepada Kapolri. Tentu saja kita menilai wajar para tokoh dan polisi ini
memandang kapolri sedemian parahnya. Karena sejarah perjalanan bangsa
ini, baru ini kapolri tunduk pada kepentingan politik.
Melihat begitu sangar dan sadisnya Kapolri, maka titah Amerika
sebagai negera pemimpin perang melawan terorisme menjadi sangat nyata.
Itulah menjadi jawaban kenapa Amerika tidak hadir dalam opini
TangkapAhok. Padahal seperti biasa Amerika sering mengkomentari urusan
dalam negeri indonesia.
Apalagi kalau urusan Intoleransi. Terakhir, Tentu saja kita harus
waspada dalam aksi ke depan. Bukan waspada akan anarkisme aksi – tapi
waspada terhadap propokasi terorisme. (Fahad Hasan)
Sumber: http://bataranews.com/2016/11/27/kenapa-kapolri-nantang-jutaan-umat-muslim/
