(Abthalul-Islam) - Musibah tengah dialami Syamsudin, 47. Warga Desa Nanga Koman II, Desa Nanga Koman, Nanga Taman, Sekadau, itu tewas tenggelam saat menebar jala.
Syamsudin menebar jala di Sungai Sekadau di daerah Nanga Koman, Sabtu (4/3) sore. Tewasnya Syamsudin hanya berselang satu hari usai tenggelamnya, Willy Candra, bocah berumur tiga tahun empat bulan di Sungai Kapuas, Dusun Kais, Desa Peniti, Sekadau Hilir, Jumat (3/3).
Kapolsek Nanga Taman, Ipda I Nengah Mulyawan menuturkan, tenggelamnya Syamsudin terjadi sekitar pukul 16.00. Saat itu, dia bersama istrinya Ensu, 41 pergi ke Sungai Sekadau di Hilir Riam Raya untuk menjala ikan. “Mereka menjala ikan menggunakan perahu kayu,” ujar Nengah kepada wartawan, Minggu (5/3) malam.
Dikatakannya, saat Syamsudin menjala, jalanya tersangkut dan tali jala terikat dijari manis kiri korban. Karena arus air sungai yang deras, dia tertarik jala yang tersangkut kayu di dalam air hingga terjatuh. Karena tak mampu melepaskan tali jala di tangannya, Syamsudin pun tertarik ke dasar sungai yang deras. “Melihat kejadian tersebut, istri korban berteriak minta tolong kepada warga,” cerita Nengah.
Nengah mengatakan, mendengar teriakan istri korban, warga pun berdatangan. Mereka mencari Syamsudin dengan cara menyelam. Baru sekitar pukul 17.20 atau satu jam lebih sejak tenggelam, Syamsudin ditemukan tak bernyawa dengan posisi tangan masih terikat tali jala. “Tidak ada unsur kekerasan yang ditemukan di tubuh korban. Korban murni meninggal karena tenggelam,” tutur Kapolsek.
Menyikapi dua kejadian tenggelamnya warga itu, Kabid Pencegahan, Kesiapsiagaan, Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sekadau, Edy Prastyo mengimbau masyarakat untuk berhati-hati. Tidak menutup kemungkinan air akan naik, terutama bila hujan terjadi di daerah perhuluan.
“Kalau bisa anak-anak, orangtua (lansia, red) jauh dari sungai, karena air sungai arusnya cukup deras. Sangat membahayakan bagi anak-anak dan masyarakat yang tidak bisa berenang. Tidak menutup kemungkinan bisa menimbulkan korban jiwa seperti di Nanga Koman,” jelasnya.
Edy mengatakan, Pemkab melalui BPBD Sekadau siap melaksanakan monitoring. Bahkan bila perlu dilakukan evakuasi jika terjadi bencana. Untuk itu kata dia, masyarakat bisa melaporkan terjadinya bencana, seperti banjir atau longsor melalui kontak bencana BPBD Sekadau.
“Masyarakat yang berada di daerah yang tanahnya rentan longsor perlu berhati-hati. Antisipasi dari masyarakat, kalau bisa melihat kondisi bukit-bukit yang kemungkinan terjadi longsor, terutama dekat pemukiman,” jelas Edy.
Ia meminta masyarakat untuk berhati-hati terutama yang berada dekat sungai. Selain itu, ia juga mengingatkan antisipasi masuknya binatang yang berbahaya ke dalam rumah, karena kondisi air yang naik. “Masyarakat harus berhati-hati, terutama untuk mengawasi anak-anak dan orangtua,” pintanya.
Sumber: http://www.jawapos.com/read/2017/03/07/114524/korban-tenggelam-di-sekadau-bertambah-penebar-jala-tewas
Syamsudin menebar jala di Sungai Sekadau di daerah Nanga Koman, Sabtu (4/3) sore. Tewasnya Syamsudin hanya berselang satu hari usai tenggelamnya, Willy Candra, bocah berumur tiga tahun empat bulan di Sungai Kapuas, Dusun Kais, Desa Peniti, Sekadau Hilir, Jumat (3/3).
Kapolsek Nanga Taman, Ipda I Nengah Mulyawan menuturkan, tenggelamnya Syamsudin terjadi sekitar pukul 16.00. Saat itu, dia bersama istrinya Ensu, 41 pergi ke Sungai Sekadau di Hilir Riam Raya untuk menjala ikan. “Mereka menjala ikan menggunakan perahu kayu,” ujar Nengah kepada wartawan, Minggu (5/3) malam.
Dikatakannya, saat Syamsudin menjala, jalanya tersangkut dan tali jala terikat dijari manis kiri korban. Karena arus air sungai yang deras, dia tertarik jala yang tersangkut kayu di dalam air hingga terjatuh. Karena tak mampu melepaskan tali jala di tangannya, Syamsudin pun tertarik ke dasar sungai yang deras. “Melihat kejadian tersebut, istri korban berteriak minta tolong kepada warga,” cerita Nengah.
Nengah mengatakan, mendengar teriakan istri korban, warga pun berdatangan. Mereka mencari Syamsudin dengan cara menyelam. Baru sekitar pukul 17.20 atau satu jam lebih sejak tenggelam, Syamsudin ditemukan tak bernyawa dengan posisi tangan masih terikat tali jala. “Tidak ada unsur kekerasan yang ditemukan di tubuh korban. Korban murni meninggal karena tenggelam,” tutur Kapolsek.
Menyikapi dua kejadian tenggelamnya warga itu, Kabid Pencegahan, Kesiapsiagaan, Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sekadau, Edy Prastyo mengimbau masyarakat untuk berhati-hati. Tidak menutup kemungkinan air akan naik, terutama bila hujan terjadi di daerah perhuluan.
“Kalau bisa anak-anak, orangtua (lansia, red) jauh dari sungai, karena air sungai arusnya cukup deras. Sangat membahayakan bagi anak-anak dan masyarakat yang tidak bisa berenang. Tidak menutup kemungkinan bisa menimbulkan korban jiwa seperti di Nanga Koman,” jelasnya.
Edy mengatakan, Pemkab melalui BPBD Sekadau siap melaksanakan monitoring. Bahkan bila perlu dilakukan evakuasi jika terjadi bencana. Untuk itu kata dia, masyarakat bisa melaporkan terjadinya bencana, seperti banjir atau longsor melalui kontak bencana BPBD Sekadau.
“Masyarakat yang berada di daerah yang tanahnya rentan longsor perlu berhati-hati. Antisipasi dari masyarakat, kalau bisa melihat kondisi bukit-bukit yang kemungkinan terjadi longsor, terutama dekat pemukiman,” jelas Edy.
Ia meminta masyarakat untuk berhati-hati terutama yang berada dekat sungai. Selain itu, ia juga mengingatkan antisipasi masuknya binatang yang berbahaya ke dalam rumah, karena kondisi air yang naik. “Masyarakat harus berhati-hati, terutama untuk mengawasi anak-anak dan orangtua,” pintanya.
Sumber: http://www.jawapos.com/read/2017/03/07/114524/korban-tenggelam-di-sekadau-bertambah-penebar-jala-tewas
