Jakarta - Parade Bhineka Tunggal Ika yang berlangsung di
Jakarta, Sabtu (19/11) mendapat sorotan dari media luar negeri. Aksi
yang disebut sebagai ajakan untuk menjaga “persatuan Indonesia” di
tengah kondisi politik yang sedang ricuh. ABC News menyebutkan,
aksi tersebut dilakukan tiga hari setelah polisi menetapkan Gubernur
Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai tersangka kasus penistaan
agama.
Puluhan ribu jamaah telah berkumpul di masjid, gereja dan kuil-kuil
di Jakarta dan di monumen nasional untuk berdoa bagi persatuan dan
perdamaian, ketegangan atas ‘tuduhan’ penghujatan terhadap orang Kristen
dan Gubernur etnis Cina, seperti yang dikutip di ABC News.
Mereka juga menyebut adanya ancaman protes yang lebih besar jika Ahok tidak dipenjara.
“Front Pembela Islam (FPI), sebuah kelompok yang ingin menerapkan
syariat Islam di Indonesia menuntut penangkapan Ahok setelah beredar
video secara online tentang satu bagian dalam Alquran yang bisa
ditafsirkan sebagai larangan bagi umat Islam untuk memilih nonmuslim
sebagai pemimpin. Gubernur telah meminta maaf atas pernyataan tersebut,” tulis ABC News.
Sementara, the Straight Times melaporkan, sepuluh ribu orang
berkumpul di pusat kota Jakarta, pada Sabtu (19/11) untuk
mengampanyekan pluralisme dan mengajak masyarakat agar tidak terbelah
karena politik. Persatuan disebut sebagai modal untuk melaksanakan
pemilihan kepala daerah (pilkada) yang akan berlangsung 15 Februari
mendatang.
Media ini menyebut FPI sebagai “kelompok garis keras” yang
menginginkan Ahok dipenjara karena kasus dugaan penistaan agama.
Dituliskan pula klaim Basuki yang menilai peristiwa itu merupakan
politisasi untuk menghambat partisipasinya sebagai calon gubernur
Jakarta. the Straight Times memperkirakan demonstrasi 4/11 diikuti sekitar 100 ribu orang.
Sebagian dari peserta demonstrasi 4/11 disebut sebagai orang bawaan,
yang ditandai dengan adanya kerusuhan. Media ini juga mengutip
pernyataan Presiden Joko Widodo tentang adanya aktor politik dalam aksi
tersebut. “Penyelenggara acara menyarankan peserta memakai pakaian
merah-putih untuk mencermikan bendera nasional, atau memakai kostum
nasional. Tidak ada yang boleh membawa bendera atau spanduk yang
mewakili organisasi, kelompok, atau partai politik tertentu,” tulis the Straight Times tentang Parade Bhineka Tunggal Ika, pada akhir laporannya.
Begitulah sifat orang-orang kafir yang ingin memadamkan cahaya Islam
dengan menghalalkan berbagai cara, namun cara mereka selalu gagal,
karena Allah tidak akan memadamkan cahaya Islam hingga hari kiamat
kelak.
Sumber: Lasdipo.co

