Perang Melawan IS, Irak Gunakan Milisi Syi'ah, Turki Dan Amerika Serikat Gelisah
MOSUL, Milisi Syi'ah Irak yang didukung Iran akan bergabung dalam perang melawan Tentara Kekhalifahan Islamic State (IS) di barat Mosul.
Langkah ini dilakukan untuk memblokir jalan bagi IS ke arah Suriah, namun keberadaan milisi Syi'ah menimbulkan kekhawatiran bagi Turki dan Amerika Serikat.
Milisi Syi'ah, dengan ribuan petempur yang dilatih oleh Iran, memang akan membawa kekuatan tambahan untuk pertempuran Mosul.
Akan tetapi kedatangan mereka di medan perang, juga menciptakan kekhawatiran bagi Barat dan negara Sunni.
Mereka khawatir milisi Syi'ah mengusir warga Sunni di sekitar daerah pertempuran. Sebagaimana yang terjadi sebelumnya di kota-kota yang direbut dari IS.
Kelompok-kelompok HAM telah meminta Baghdad agar menjauhkan petempur Syi'ah dari medan perang, khawatir milisi sektarian itu akan melakukan pembunuhan dan penculikan di daerah yang telah bersih dari IS.
Seorang juru bicara milisi mengatakan, penyerangan terhadap kota Tal Afar (sekitar 55 km dari barat Mosul) yang dikuasai oleh ISIS, akan dimulai dalam "beberapa hari atau jam". Jika berhasil, serangan ini akan membuat IS terkepung.
Hal ini juga dibenarkan oleh Ahmed al-Asadi, juru bicara milisi Syi'ah yang dikenal sebagai kelompok Hashid Shaabi atau pasukan Mobilisasi Populer.
"Ini adalah jalur yang paling penting dan berbahaya karena menghubungkan Mosul ke Raqqah dan merupakan satu-satunya jalur suplai IS", katanya.
Penyerangan milisi Syi'ah di Tal Afar akan menargetkan area yang dekat dengan Turki, yang juga merupakan tempat tinggal etnis Turkmen.
Menteri luar negri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan, pihaknya akan mengawasi serangan-serangan yang terjadi di Tal Afar.
Populasi Tal Afar didominasi oleh Muslim Sunni maupun penganut Syi'ah dari etnis Turkmen (etnis Turki), dimana kaum Syi'ah telah melarikan diri sejak dua tahun lalu saat IS mengambill alih kota tersebut.
(sumber: risalah.tv)
