MYANMAR, Progam Pangan Dunia (WFP) melaporkan, Pemerintah Myanmar telah memblokir bantuan pangan yang direncanakan akan disalurkan bagi 80 ribu warga rohingya di negara bagian Rakhine.
Akses ke wilayah utara Myanmar yang didominasi warga Muslim Rohingya
juga telah ditutup. Penutupan ini menyusul tewasnya 9 anggota polisi Myanmar awal pekan lalu di dekat
perbatasan Bangladesh, pemerintah Myanmar meningkatkan pengamanan di
Rakhine. Muslimin Rohingya dituduh sebagai pelaku serangan ini.
Media-media Myanmar melaporkan, sejak pekan lalu, 30 orang tewas akibat serangan militer pemerintah.
WFP menyatakan, tiap hari, biasanya bantuan pangan diberikan kepada 80
hingga 85 ribu orang di daerah yang dikepung militer Myanmar. Namun,
beberapa hari terakhir, militer menghalangi pengiriman bantuan tersebut.
Arsene Sahakian, wakil WFP di Myanmar, mengatakan,”Militer ada di semua
tempat dan memberlakukan larangan keluar-masuk daerah itu. Sebab itu,
kami mustahil menjangkau daerah tersebut.”
Menurut laporan PBB, Muslimin Rohingya adalah salah satu kelompok paling
tertindas di dunia. Mereka berjumlah lebih dari 1,3 juta orang, namun
tak memperoleh hak sepenuhnya sebagai warga negara Myanmar.
Beberapa tahun terakhir, banyak orang dari Muslimin Rohingya, terutama
di distrik Rakhine, yang terbunuh atau terlunta-lunta akibat serangan
kelompok ekstremis Budha.
Pada tahun 2014, sebagian besar badan-badan bantuan menarik diri dari
negara itu setelah massa Buddha menggeledah kantor dan gudang mereka,
menuduh mereka mendukung Muslim.
Kemarahan yang ditunjukkan di luar biara di Maungdaw, yang menjadi kamp
pengungsi darurat untuk Buddha Rakhine, terdapat tulisan: "Kami tidak
membutuhkan dukungan dari PBB, LSM internasional - negara Maungdaw
Rakhine".
Uni Eropa, pada bulan Juli, mendesak pemerintah Myanmar untuk mengakhiri
"penindasan brutal" dan "penganiayaan sistematis" Rohingya, namun
permintaan mereka agar akses ‘bebas hambatan’ ke daerah-daerah tempat
Muslim Rohingya menjadi sasaran, sebagian besar telah diabaikan.